SURABAYA, – Suasana tegang yang sempat menyelimuti aksi unjuk rasa di depan Gedung Negara Grahadi, Surabaya, Sabtu (30/8/2025), berubah menjadi penuh keakraban ketika Pangdam V/Brawijaya, Mayor Jenderal TNI Rudi Saladin, turun langsung menemui massa. Didampingi Danrem 084/BJ, Brigjen TNI Danny Alkadrie, Pangdam memilih tidak hanya berdiri di hadapan massa, melainkan ikut duduk bersila bersama mereka.
Pemandangan tersebut sontak mencuri perhatian. Ribuan pasang mata yang tadinya dipenuhi dengan ekspresi tegang, perlahan mencair saat melihat pimpinan tertinggi TNI AD di Jawa Timur itu berbaur tanpa sekat. Sikap rendah hati Pangdam disambut hangat para peserta aksi yang berasal dari beragam elemen masyarakat.
Aksi yang sebelumnya diwarnai suara lantang dan spanduk tuntutan, berubah menjadi ruang dialog terbuka. Pangdam Rudi Saladin memanfaatkan momentum itu untuk mengajak massa berbicara dari hati ke hati. "Kita sama-sama mencari jalan keluar terbaik. Tidak perlu ada yang merasa jauh, mari kita duduk dan diskusi, " ucapnya dengan nada tenang, yang langsung mengundang atensi peserta aksi.
Dialog pun bergulir. Satu per satu perwakilan massa menyampaikan unek-unek dan aspirasinya. Situasi yang awalnya penuh kewaspadaan, berubah cair ketika seorang peserta menyampaikan keluhannya dengan jujur bahwa banyak dari mereka belum sempat makan. Mendengar hal itu, Pangdam menanggapinya dengan ringan, "Ow gurung mangan ta rek, wah pelanggaran arek-arek iki, " ujarnya sambil tersenyum. Candaan itu sontak disambut tawa dan guyonan balasan dari peserta, "Padang, padang (nasi padang)."
Momen sederhana itu mencairkan suasana yang tadinya keras. Gelak tawa mengiringi dialog, seakan memberi pesan bahwa komunikasi bisa menghadirkan kedekatan bahkan di tengah perbedaan pandangan.
Brigjen TNI Danny Alkadrie yang mendampingi Pangdam, turut memastikan situasi tetap terkendali. Dengan komunikasi persuasif yang ditunjukkan jajaran TNI, aksi berjalan aman tanpa insiden berarti.
Kehadiran Pangdam di tengah massa bukan hanya simbol kedekatan, tetapi juga strategi meredam ketegangan dengan pendekatan humanis. Cara itu membuktikan bahwa kehadiran aparat negara tidak selalu identik dengan jarak dan sekat, melainkan bisa hadir sebagai mitra dialog rakyat.
Banyak pihak menilai sikap Pangdam V/Brawijaya bersama Danrem 084/BJ ini mencerminkan semangat merangkul masyarakat. Bahwa di tengah dinamika politik dan sosial yang sedang berkembang, solusi damai dan persuasif tetap menjadi pilihan terbaik untuk menjaga keutuhan Jawa Timur. (*)